Penyakit Blas dan Rekomendasi Pengendaliannya
Pengendalian Hama

Penyakit Blas dan Rekomendasi Pengendaliannya

Penyakit blas adalah penyakit penting pada padi yang dapat menyerang fase vegetatif dan generatif, disebabkan oleh cendawan Pyricularia oryzae, dengan pengendalian melalui manajemen budidaya dan kesehatan tanaman.

Administrator · 10 Agustus 2026 · 5 menit baca

Gejala Penyakit Blas

Gejala dapat dijumpai pada daun, batang, malai, dan bulir. Gejala pada daun berupa bercak konsentris umumnya berbentuk belah ketupat dengan pusat berwarna putih keabu-abuan dan tepian berwarna coklat kemerahan. Gejala pada tangkai malai menyebabkan pembusukan sehingga malai hampa karena hasil fotosintesis tidak dapat disalurkan.

Tingkat infeksi blas daun tertinggi pada periode antara pembibitan dan pembentukan anakan. Setelah itu, tingkat serangan menurun karena daun yang tua relatif tahan. Pada masa pembentukan malai, blas menyerang lagi terutama pada ruas batang dan tangkai malai padi.

Penyebab dan Bioekologi

Nama ilmiah cendawan penyebab adalah Pyricularia oryzae. Sumber utama penyakit blas adalah tanaman padi yang sakit. Benih padi juga bisa menjadi sumber penyakit. Blas yang menyerang rerumputan dapat menyerang padi setelah beradaptasi pada varietas padi yang rentan.

Penyebaran dapat melalui angin dan percikan air. Cendawan membutuhkan periode embun minimal 5 jam untuk bisa berkecambah dan menginfeksi jaringan tanaman. Suhu optimum untuk perkecambahan spora adalah 25-28 derajat Celsius. Secara umum blas menyerang dalam kondisi cuaca kering dengan perbedaan suhu siang dan malam yang cukup tinggi sehingga periode embun lebih lama.

Faktor Pemicu Serangan

Serangan penyakit blas dapat dipicu oleh kondisi stres pada tanaman seperti kekurangan air dan penggunaan herbisida. Tidak kembalinya jerami ke lahan menyebabkan tanaman kekurangan unsur Kalium dan Silika. Musim kemarau meningkatkan risiko serangan blas. Benih yang tidak sehat atau terbawa patogen juga menjadi faktor risiko.

Rekomendasi Pengendalian

Kembalikan jerami ke lahan sebagai sumber kalium dan silika, hindari penggunaan herbisida, dan rendam benih dengan PGPR (bakteri perakaran pemicu pertumbuhan) untuk meningkatkan ketahanan tanaman. Lebih waspada ketika ada serangan blas daun karena berpotensi menimbulkan penyakit blas leher, dengan cara menyemprotkan teh kompos.